Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label persepakbolaan di indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persepakbolaan di indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2012

persepak bolaan di indonesia

Benarkah dengan kekalahan timnas 0-10 dari Bahrain menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia tengah berada di titik terendah? Setidaknya itulah yang diungkapkan oleh tokoh sepak bola nasional IGK Manila. Menurutnya, Indonesia pernah kalah 6-0 saat menghadapi Arab Saudi di Jeddah pada 17 Oktober 2003, juga 1-7 sewaktu menjamu Uruguay di Senayan. “Tapi tidak pernah separah ini,” ujarnya kepada Tempo, Kamis 1 Maret 2011.
Manajer Tim Nasional saat menjuarai SEA Games 1991 ini mengatakan Pasukan Garuda memang berangkat ke Manama tanpa target karena sudah tersisih dari kualifikasi Pra-Piala Dunia Grup E Zona Asia. Jadi, kalaupun kalah sampai 3-0, masyarakat masih lapang dada. “Tapi ini memalukan,” ujar Manila.
Manila menuding Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai biang kerok anjloknya mutu tim nasional. “Tim lama mereka bubarkan, pelatih bagus mereka pecat, pengurus ditempati orang-orang yang tidak mengerti sepak bola,” kata Manajer Persija Jakarta saat menjuarai Liga Indonesia 2001 ini.
Lebih tegas lagi, Manila meminta Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin mundur dari jabatannya. “Dia tidak becus,” katanya. Meski mengakui bahwa permainan timnas di bawah standar, Manila menunjuk kesalahan terbesar berada pada PSSI yang gagal menyelesaikan perselisihan di antara pengurus dan klubnya. “Ibarat kapal, yang bertanggung jawab adalah kaptennya, yaitu Ketua PSSI,” kata manajer tim nasional saat merebut medali emas SEA Games 1991 ini.
Purnawirawan bintang dua berusia 69 ini meminta PSSI mengambil himah dari kekalahan–dia menyebut permainan sekelas pertandingan antar kampung alias tarkam–itu sebagai momentum untuk becermin. “Ini adalah wajah sepak bola kita,” kata Manila.
Yah, selama ini IGK Manila jarang berkomentar sekitar hiruk pikuk kisruh persepakbolaan nasional. Sebagai sesepuh sepak bola nasional, tampaknya IGK Manila memilih menyepi dari carut marut PSSI yang semakin hari justru semakin panas. Namun pasca kekalahan telak timnas dua hari lalu, Manila tampak mulai gerah, dan tidak tahan untuk berdiam diri, dan memutuskan untuk turun gunung. Akibatnya, kalimat yang keluar terasa keras, menunjukkan bahwa kalimat tersebut merupakan letusan dari sesuatu yang selama ini dipendam, dan kini tak tertahankan lagi untuk dimuntahkan.